Supervisi Akademis

Supervisi Akademis Yang

Membantu Menumbuhkan Kemampuan Siswa

 

Oleh : Drs. Tujiyanto, M.Pd

Pengawas SMK Kab.Boyolali

 

"Pengawas sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk melakukan proses pembelajaran agar mampu menumbuhkan kemampuan kreatifitas, daya inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis dan memiliki naluri jiwa kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan ", demikian kata Surya Darma, MPA, Ph.D  pada Pengantar Buku Supervisi Akademik yang dikeluarkan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas.

Dalam buku tersebut disebutkan pula bahwa  "...pengawas sekolah dalam melaksanakan pengawasan akade­mik yakni menilai dan membina guru dalam rangka memper­tinggi kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakannya, agar berdampak terhadap kualitas hasil belajar siswa." (h 2)

Dalam pada itu Spears, pada buku yang sama (h 9) antara lain mengatakan bahwa supervisi akademis sebagai proses peningkatan pembelajaran melalui kerjasama dengan orang lain untuk membantu siswa. Ia mengatakan  "It is the process of bringing about improvement in instruction by  working with people who are helping the pupils. It is a process of stimulating growth and a means of helping teachers to help themselves. The supervisory programme is one of instructional improvement."  Maksud Pears, di pundak pengawas  terkandung kewajiban membantu guru memberikan rangsangan kepada siswa untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya . Unruh & Turner (1970) menyatakan bahwa supervisi sebagai "sebuah proses sosial dari stimulasi, pengasuhan, dan memprediksi pengembangan profesional guru" (h. 17) dan pengawas sebagai "penggerak utama dalam pengembangan secara optimum kondisi pembelajaran" (h. 135). Ia mengatakan pula bahwa pengawas adalah teman sejawatnya guru. Katanya: "Apabila guru belajar dari memeriksa praktiknya sendiri dengan bantuan sejawat atau pengawas, pembelajarannya menjadi lebih personal dan oleh karena itu lebih kuat.

              Supervisi akademik memerlukan perencanaan yang baik. Rencana yang baik adalah jelas yang akan diukur, jelas waktunya dan diinformasikan kepada sekolah yang akan disupervisi.. Setidak-tidaknya supervisi akademis bertujuan memberikan dukungan kepada guru agar guru berhasil

Dalam buku Supervisi Akademik sebagaimana disebutkan diatas (h 7) disebutkan bahwa fungsi dukungan dalam supervisi akademik adalah menyediakan bimbingan profesional dan bantuan teknis pada guru untuk meningkatkan proses pembelajaran. Dengan mengajar lebih baik berarti membantu siswa untuk:

1.    Belajar lebih banyak (to learn more);

2.    Belajar lebih cepat (to learn faster);

3.    Belajar lebih mudah (to learn easier);

4.    Belajar lebih menyenangkan (to have more pleasure while learning); dan

5.    Menggunakan/mengaplikasikan apa yang mereka pelajari dengan lebih efektif (to use/apply what they learn more effectively).

       Dari uraian di atas dapat dikatakan  bahwa  sasaran pertama supervisi akademik adalah guru dalam pro­ses pembelajaran sedangkan sasaran akhirnya adalah pertumbuhan siswa. Pengawas membimbing guru dan guru mengaplikasikan hasil bimbingan pengawas tersebut kepada siswa. Oleh karena itu pengawas sudah semestinya memiliki pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan oleh guru dalam membantu perkembangan siswa.. Pengetahuan dan kemampuan tersebut di antaranya ialah:

1.    Menyusun silabus, program tahunan, program semester dan RPP;

2.    memilih strategi / metode / teknik pembelajaran;

3.    menggunakan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran;

4.    menilai proses dan hasil pembelajaran serta;

5.    melakukan penelitian tindakan kelas.

         Sebagai contoh pada tulisan ini akan disampaikan sekilas kaitan membimbing guru dalam menyusun silabus dengan menumbuhkan kemampuan siswa.

        Rumusan indikator yang benar terletak pada "kesesuaian pilihan kata operasional" dengan "kompetensi yang disebutkan dalam Kompetensi Dasar". Jika kompetensi dasar yang menjadi target pembelajaran "memahami", maka kata operasional yang sesuai antara lain memperkirakan, menjelaskan, mengkategorikan, mencirikan, merinci, mengasosiasikan, membandingkn, menghitung, mengkontraskan, mengubah, mempertahankan, menguraikan, menjalin, membedakan, mendiskusikan, dsb.

Kata yang dipilih tentu disesuaikan dengan materi atau bahan yang diajarkan. Ketepatan memilih kata operasional tersebut diikuti dengan ketepatan memilih kegiatan pembelajaran. Kegiatan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi sebagaimana yang ditetapkan dalam Peraturan Mendiknas nomor 41 tahun 2007 sudah barang tentu harus dilakukan. Sebagai misal kata operasional yang dipilih adalah mendiskusikan, maka salah satu kegiatan eksplorasinya adalah menganjurkan siswa untuk "membaca sumber-sumber yang berkaitan dengan bahan yang akan diskusikan" sedangkan kegiatan elaborasinya adalah memberikan kesempatan berfikir kritis kepada siswa. Kemudian kegiatan konfirmasinya adalah latihan  mengakui kebenaran pendapat teman lain

        Dalam menjalankan peranannya membantu guru (Buku Supervisi Akademik yang dikeluarkan olah Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas.h. 1-2), pengawas sekurang-kurangnya disyaratkan  memiliki 8 (delapan) kompetensi sebagai berikut:

1.  Memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis.

2.  Memahami konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran / bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis.

3.  Membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP.

4.  Membimbing guru dalam memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan berbagai potensi siswa melalui mata-mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis.

5.  Membimbing guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis.

6.  Membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/ bimbingan (di kelas, laboratorium, dan atau di lapangan) untuk tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis.

7.  Membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran yang relevan di sekolah menengah yang sejenis.

8.  Memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/ bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaan yang relevan

           Delapan kompetensi tersebut terdiri dari dua contents. Content pertama (nomor 1 dan 2) adalah komponen teoretik sedangkan contents kedua (nomor 3, 4, 5, 6, 7, dan 8) adalah komponen aplikatif. Komponen teoretik membentuk kepercayaan dan kematangan diri pengawas. Dengan  content pertama pengawas akan mampu berdiri sebagai "bleger" (Jawa) atau personal  yang  bisa memancarkan wibawa. Selanjutnya content kedua  lebih banyak memerlukan "art knowhow" (seni bagaimana melakukan) dan bukan science knowhow (ilmu bagaimana  melakukan). Content kedua akan lebih berhasil  jika pengawas berbuat sebagai seniman atau sebagai conselor, dan bukan inspektur Seniman adalah sosok pelaku yang langkah-langkahnya tidak hitam putih, artinya tidak seperti teori matematika yang berdasarkan rumus-rumus tegas. Langkah seniman selalu menyesuaikan kondisi yang dihadapi. Demikian pula sebagai conselor, pengawas memposisikan diri sejajar dengan guru yang dibimbing. Pengawas dalam melakukan tugas pembimbingan, senantiasa tidak sekedar menerapkan ilmu-ilmu yang dimiliki, tetapi disesuaikan dengan kondisi ketika pengawas melakukan tindakan pembimbingan.  Sullivan & Glanz mengatakan bahwa "pendekatan kerja pengawas sebagai inspektur adalah pengawas gaya birokrat"  yang melakukan tugas inspeksi. Dengan tugas inspeksi berarti menjadi pejabat yang selalu menemukan kesalahan, dan bekerja atas dasar "bagaimana seharusnya, bagaimana bekerja yang benar". Berbeda dengan konselor. Menurut Sullivan & Ganz, konselor menerapkan prisip kesejajaran, bekerja dengan pendekatan "bagaimana sebaiknya". Dengan tekanan pada "metode kooperatif secara professional, membantu hubungan yang otentik, mutual dan individual". Dalam aksinya, pengawas tidak menyuruh tetapi mengajak dan membimbing Dalam buku Materi Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Pengawas Sekolah (h 8) disebutkan bahwa  dalam melaksanakan tugas sebagaimana disebutkan pada content kedua, pengawas harus :

1) Mendengarkan dengan sabar

 2) Menunjukkan keterampilannya dengan jelas

3) Menawarkan insentif atau dorongan dengan tepat

4) Mempertimbangkan reaksi dan pemahaman dengan tepat

5) Menjelaskan, merangsang dan menuji secara simpatik dan penuh perhatian

 6) Meningkatkan pengetahuan sendiri secara berkelanjutan.

           Dengan demikian pengawas sebagai petugas supervisi akademis dapat berhasil jika prinsip kesabaran, kesejajaran, mau mendengar, memberikan dorongan, memberikan pujian bisa memperbaiki kinerja guru dalam melaksanakan tugas.

 

Daftar Pustaka

Anonim, Materi Pelatih Penguatan Kemampuan Pengawas Sekolah, Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas, 2010

 Sullivan, S., & Glanz, J. (2000). Alternative Approaches to Supervision: Cases from the field. Journal of Curriculum and Supervision, 15(3), 212-235.

Unruh, A., & Turner, H. E. (1970). Supervision for Change and Innovation. Boston: Houghton-Mifflin.

  



(Dibaca Sebanyak 5812 kali)
  print preview tell friends convert to pdf